. Ndi …

They may forget Ur Good deeds, Just do Good…

Mengapa Kita Tidak Membaca?

leave a comment »

Kita tidak membaca karena kita tidak terlatih berpendapat, berpikir sendiri. Kita tidak dididik untuk berani
mengemukakan pendapat sendiri di rumah, disekolah, di masyarakat. Orang menjadi malas berpikir dan menggantungkan diri pada mereka yang dianggap terlatih dalam berpikir. Kita belum menjadi bangsa pemikir. Pemikir, di lingkungan kita, dianggap sebagai pembuat onar, merusak ketertiban dan keamanan bersama. Pemikir itu tidak sesuai dengan ‘kepribadian sendiri’. Kepribadian kita adalah musyawarah, kepribadian petuah dan petunjuk, kepribadian yang menganggap pemikiran adalah benda hak milik, bukan benda yang berkembang.

Kebebasan berpendapat adalah inti demokrasi. Setengah bebas berpendapat adalah setengah demokrasi.
Tidak ada kebebasan berpendapat sama sekali bukan demokrasi. Manusia yang bebas adalah manusia yang mampu mengembangkan daya pikirnya sendiri. Dan kita adalah bangsa bebas. Dan Negara kita Negara yang bersifat demokrasi.

Mengapa kita menggunakan kebebasan berpikir kita? Mengapa kita tidak mencetak buku hasil pemikiran bebas kita sendiri? Mengapa kita selalu menjadi konsumen pikiran bangsa lain? Mengapa rongga kepala kita begitu mudah mengagumi dan percaya pada pikiran mutakhir bangsa lain? Mengapa tidak terbit buku yang berisi hasil pemikiran bangsa sendiri?

Berpikir itu memerlukan fakta. Dan fakta itu dapat kita peroleh dari buku yang berisi informasi otentik, akurat, dan terpercaya. Berpikir itu juga memerlukan gagasan abstrak, teori. Dan itu juga hanya dapat diperoleh dari buku. Proses berpikir itu terjadi karena adanya ransangan untuk berpikir, ada masalah, ada kontroversi, ada tantangan untuk dijawab. Dan itu juga hanya dapat ditemukan dalam buku yang memberi stimulasi pada kita untuk berpikir. Untuk menjadi bangsa yang berpikir, kita memerlukan banyak buku. Para pemikir kita yang sedikit jumnlahnya itu adalah para pengumpul buku. Setiap pemikir di masyarakat kita adalah pemilik perpustakaan pribadi. Setiap pemikir selalu haus buku, karena haus informasi, haus fakta baru, haus ide atau gagasan baru yang menantang. Hadiah berharga bagi para pemikir adalah buku. Buku adalah kebutuhan kedua setelah makan. Kadang-kadang mereka rela berpuasa demi memperoleh sebuah buku.

Membaca menjadi sebuah kebutuhan untuk orang yang senang berpikir. Bangsa yang berpikir bebas adalah bangsa yang menghargai buku. segala macam buku. buku yang berisi informasi fakta. Buku yang berisi gagasan. Buku yang mengajukanbanyak pertanyaan, mengajukan gugatan, mengemukakan persoalan, yang menantang kita untuk berpendapat. Baik itu buku fiksi atau nonfiksi dengan seribu satu pokok bahasan. Barang siapa menguasai buku, dia menguasai manusia. Bangsa yang banyak mencetak buku dan menyebarkannya ke seluruh umat manusia, dialah bangsa yang berkuasa, yakni menguasai pikiran
umat manusia. Sedangkan bangsa yang terjajah adalah bangsa yang alam pikirannya diisi oleh bangsa lain.
Bangsa yang tidak bebas adalah bangsa yang tidak mencetak bukunya sendiri. Bangsa yang demikian itu justru bangsa yang tidak memiliki kepribadian sendiri.

Mengapa kita kurang mengembangkan kemampuan berpikir kita dengan tidak membaca?
Generasi pembaca kita barangkali baru generasi yang ketiga. Sejak berkembangnya pendidikan dasar tahun 1900an oleh pemerintah kolonial, kita baru memiliki generasi kaum intelektual pergerakan seperti tan malaka, muhammad hatta, muhammad yamin, sutan syahrir, soekarno, yang menulis buku hasil pemikiran mereka terhadap bangsa ini. Lantas disusul oleh generasi revolusi kemerdekaan, yang tentu saja mengembangkan kemampuan berpikir mereka, tetapi kurang menghasilkan buku yang ditulis sendiri. Kondisi ini harus kita maklumi lantaran mereka adalah kaum intelektual yang bertolak lebih dari pengalaman nyata daripada dunia buku. Inilah sebabnya mereka banyak menerbitkan semacam memoar yang
ditulis oleh orang lain. Generasi yang terakhir adalah mereka yang mengenyam pendidikan pasca-kemerdekaan.

Inilah generasi yang menyadari pentingnya peranan buku dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Tetapi, sudahkah kita bebas berpendapat, bebas berpikir?

Written by ndi

June 7, 2008 at 7:33 pm

Posted in What's On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: