. Ndi …

They may forget Ur Good deeds, Just do Good…

Archive for the ‘Religi’ Category

Ada buruknya, Ada baiknya

leave a comment »

Tulisan ini dibuat setelah saya baca tulisan di blog temen, cuma saya ingin menambahkan saja karena ada beberapa hal yang saya kira juga cocot eh cocok dengan situasi yang terjadi.
Bagi yang sudah bekerja entah bekerja di bidang apa tentunya ada suka dukanya. Menurut saya dunia kerja yang sesuai dengan apa yang diinginkan tentunya akan banyak sukanya dibanding dukanya.

“Dunia kerja memang enjoy dan menyenangkan bagi saya, bisa fokus dan memang benar-benar fokus mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus dipelajari. Entah kenapa semua pekerjaan yang dikerjakan merupakan kerjaan borongan, semuanya asal jadi, asal pakai, asal hidup tapi tidak sampai asal-asalan. Kenapa saya tidak berpikir membuat desain sistem dan perencanaan yang matang untuk pengerjaan sistem tersebut.
Kenapa sebagian orang berpikir “instant” dan tidak pernah berpikir “process”, segalanya siap saji, siap pakai,siap coba dan selalu siap. Gelap deh.. “.

Semuanya terkesan terburu-buru dan harus jadi seperti yang diminta. Seperti kata temen “pasal 1 : bahwa bos tidak pernah salah”.
Kenapa tidak ada rencana sebelumnya sehingga waktu pengerjaan jadi lebih tertata dan hasilnya bisa dimaksimalkan.

Mungkin ini berhubungan dengan segala bidang pekerjaan, namun saya sendiri memfokuskan tulisan pada bidang IT. Karena kebetulan pekerjaan saya ya ga jauh-jauh dari dunia IT.

Advertisements

Written by ndi

June 27, 2009 at 4:29 pm

Posted in Religi, What's On

Sufistik Programmer

leave a comment »

Bulan puasa akan segera tiba, tapi ak rasakan Ada kesamaan antara seorang programmer dengan seorang sufi, mereka sama-sama berusaha mencari pencerahan. Setiap hari adalah pencarian tentang hakekat kebenaran. Seorang programmer setiap hari berusaha agar kode yang dihasilkan lebih bermutu dari hari sebelumnya. Tidak ada kebenaran dalam ber-koding karena setiap hari adalah penyempurnaan dari hari-hari sebelumnya.

Untuk mendapatkan pencerahan seorang programmer harus duduk berjam-jam, merenung dan berfikir. Melihat aturan-aturan yang ada sambil berusaha membuat sesuatu yang berguna. Bedanya jika para sufi yang dilihat adalah aturan-aturan dari Tuhan, sedangkan para programmer adalah ayat-ayat dari Microsoft atau Sun Microsystem. Perbedaan lainnya jika adalah pada tangan mereka yaitu satu pegang tasbih sedangkan yang satunya pegang keyborad.

Tetapi mereka melakukan proses yang sama, yaitu selalu berusaha mencari hekekat kebenaran. Dan semua itu harus dilalui dengan usaha keras, ketekunan dan tentu harus bisa menikmatinya.

Adalah termasuk orang-orang yang merugi, jika menulis algoritma hari ini. lebih jelek dari hari kemarin. Hari ini program saya harus lebih baik dari hari kemarin.

Bagi kalangan muslim mereka percaya jika mereka telah meninggal akan ditanya dialam kubur. Siapa Tuhanmu? Apa Agamamu? Apa Kitabmu. Awas bagi programmer Microsoft jangan sampai keliru menjawab. Microsoft Tuhanku, MSDN kitabku dan Bill Gates nabiku……bisa-bisa anda kena banned oleh para Malaikat. Dan di-kick dimasukan ke neraka karena invalid login..!

(Dikutip dari http://pristobenk.wordpress.com/page/2/)

Written by ndi

August 20, 2008 at 10:47 am

Posted in Religi

Sekilas rangkumanku

leave a comment »

– Semua itu lahir sebagai akibat dari pada watak, naluri dan tabiat manusia yang karena jenuh dengan menghadapi masalah-masalah yang menuntut kesungguhan hati, kelelahan bathin serta kemuraman wajah, lalu melepaskan diri dari kemelut yang demikian itu dengan mencari hiburan hati dan kegembiraan kalbu.

– Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan dengan memikul beban yang berat, ia akan menjadi buta.

– Waktu dan jaman yang terus berputar dapat mengatasi dan menyelesaikan segala kesulitan yang dihadapai manusia. sesungguhnya, persoalannya hanyalah masalah waktu belaka.

– Dan Allah SWT pun memberikan petunjuk obat untuk menghilangkan kesedihan manusia, yaitu dengan tafakkur kepada-Nya.

– Fungsi ketawa :
ketawa hendaknyalah merupakan suatu cara kita menyatukan hati untuk tujuan cinta dan kasih sayang serta memperbaharui semangat dan telaah jiwa kita di dalam menghadapi perjuangan hidup yang penuh gejolak, yang penuh pasang surut dan pahit getirnya dan sekaligus sebagai perwujudan sikap tahmid kita atas segala macam kenikmatan yang begitu banyak, yang telah di limpahkan Allah SWT kepada kita.

– Ketawa merupakan getaran suara manusia yang lebih disukai oleh Allah SWT dari pada keluhan yang timbul sebagai penampilan rasa ketakutan dan kelemahan jiwa di dalam menghadapi segala macam tantangan dan cobaan di dalam hidup dan kehidupan kita ini.

– Berbeda dengan kesulitan, kesusahan serta kesedihan yang mencekam orang dalam kemurungan, kegelapan hati, keputus-asaan dan menjadikan orang yang bersangkutan hanya menatap sambil berpangku tangan tentu tanpa mampu merubah dirinya.

– “The greatest battles of life is fight daily in the silent chamber of soul”. (David O. Mackay)
Peperangan paling dahsyat dalam kehidupan adalah pertarungan setiap hari dalam relung-relung sunyi jiwa.

– From Buya Hamka (“Blessing in Diguise”)
Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual)
Yang ditandai oleh kemampuan untuk menemukan makna dibalik suatu peristiwa.

Written by ndi

June 7, 2008 at 7:45 pm

Posted in Religi

Tasawuf Jawa

leave a comment »

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane“.

– Mangkono janma utama, tuman-tumanen ing sepi, ing saben rikala mangsa, masah, amemasuh

budi, laire anetepi, ing rih kasatriyanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesami, yeku aran wong barek berag agama. Demikianlah manusia utama, gemar dalam kesepian, pada waktu tertentu, mempertajam dan membersihkan jiwa, caranya berpegang teguh pada sifat satria, sopan santun, rendah hati, pintar memikat hati orang, itulah yang disebut menghayati agama.

– Singiran tombo ati :
1. maca Qur’an angen-angen sak maknane
2. kaping pindo shalat wengi lakonana
3. kaping telu wongkang shaleh kumpulana
4. kaping papat dzikir wengi ingkang suwe
5. kaping lima kudu luwe ing wetenge, salah sawijine sapa bisa ngalakoni, mugi-mugi Gusti Allah ngijabahi.

Sri sultan Paku Buwana IV (1788-1820) :
– Poma kaki padha dipun eling, ing pitutur ingong, sira uga satriya arane, kudu anteng jatmika ing budi, ruruh sarwa wasis, samubarangipun.
“Maka ingat-ingatlah anak-anakku, pada petuahku ini, karena kamu juga bergelar satria, haruslah berbudi tenang tanpa resah, bertindak sabar tetapi penuh kecerdasan, di dalam segala-galanya”.

Written by ndi

June 7, 2008 at 7:43 pm

Posted in Religi

Memulai dan Menjaga

leave a comment »

Postingan ini saya dapat dari blognya Novi, katanya ini merupakan postingan yang ga jelas.. apa iya? Padahal pas saya baca kok ga “ga jelas” ya.. maksudnya jd jelas gtu.. Monggo di baca..

Memulai memerlukan energi aktivasi yang besar. Selanjutnya, akan hadir semangat yang meletup-letup. Jika tidak hati-hati, setiap yang berlebihan itu tidak baik. Mungkin akan hadir ketidakseimbangan, lalu kebosanan pun menyerang. Sesuatu yang terasa istimewa di awal, lama-lama menjadi biasa-biasa saja. Waktu memang menakutkan, bisa mengubah segalanya namun tidak bisa mengembalikannya.

Menjaga juga memerlukan energi, tapi bentuknya berbeda dengan energi aktivasi. Hmm, mungkin harus lebih halus (emang gimana sih, bentuk energi yang halus?). Sedikit demi sedikit, tapi selalu ada. Perlu momen-momen sederhana untuk membuatnya selalu aktif, seperti: ibadah-ibadah sunnah. Semoga selalu terjaga dalam cinta kepadaNya.

Written by ndi

May 17, 2008 at 5:52 pm

Posted in Religi